Showing posts with label Geografi. Show all posts
Showing posts with label Geografi. Show all posts

Wednesday, January 15, 2014

OSEANOGRAFI DAN OSEANOLOGI

Kata “Oseanografi” di dalam Bahasa Indonesia adalah terjemahan dari kata Bahasa Inggris “Oceanography”, yang merupakan kata majemuk yang berasal dari kata “ocean” dan “graphy” dari Bahasa Yunani atau “graphein” dari Bahasa Latin yang berarti “menulis”. Jadi, menurut arti katanya, Oseanografi berarti menulis tentang laut.

Selain “Oseanografi” kita juga sering mendengar kata “Oseanologi”. Kata “Oseanologi” di dalam Bahasa Indonesia adalah terjemahan dari kata Bahasa Inggris “Oceanology”, yang juga merupakan kata majemuk yang berasal dari kata “ocean” dan “logia” dari Bahasa Yunani atau “legein” dari Bahasa Latin yang berarti “berbicara”. Dengan demikian, menurut arti katanya, Oseanologi berarti berbicara tentang laut.
Menurut Ingmanson dan Wallace (1973), akhiran “-grafi” mengandung arti suatu proses menggambarkan, mendeskripsikan, atau melaporkan seperti tersirat dalam kata “Biografi” dan “Geografi”. Akhiran “-ologi” mengandung arti sebagai suatu ilmu (science) atau cabang pengetahuan (knowlegde). Dengan demikian “Oseanologi” berarti ilmu atau studi tentang laut, sedang “Oseanografi” berati deskripsi tentang laut. Meskipun demikian, kedua kata itu sering dipakai dengan arti yang sama, yaitu berarti sebagai eksplorasi atau studi ilmiah tentang laut dan berbagai fenomenanya. Negara-negara Eropa Timur, China dan Rusia cenderung memakai kata Oseanologi, sedang negara-negara Eropa Barat dan Amerika cenderung memakai kata Oseanografi.

Istilah “Hidrografi” yang berasal dari kata Bahasa Inggris “Hydrography” kadang-kadang digunakan secara keliru sebagai sinonim dari Oseanografi. Hidrografi terutama berkaitan dengan penggambaran garis pantai, topografi dasar laut, arus, dan pasang surut untuk penggunaan praktis dalam navigasi laut (Ingmanson dan Wallace, 1985). Oseanografi meliputi bidang ilmu yang lebih luas yang menggunakan prinsip-prinsip fisika, kimia, biologi, dan geologi dalam mempelajari laut secara keseluruhan.

DISIPLIN ILMU TERKAIT

Secara sederhana, oseanografi dapat disebutkan sebagai aplikasi semua ilmu (science) terhadap fenomena laut (Ross, 1977). Definisi tersebut menunjukkan bahwa oseanografi bukanlah suatu ilmu tunggal, melainkan kombinasi berbagai ilmu.
Untuk mempermudah mempelajari laut, para ahli oseanografi secara umum membagi oseanografi menjadi lima kelompok, yaitu:
  1. Oseanografi kimia (chemical oceanography): mempelajari semua reaksi kimia yang terjadi dan distribusi unsur-unsur kimia di samudera dan di dasar laut.
  2. Oseanografi biologi (biological oceanography): mempelajari tipe-tipe kehidupan di laut, distribusinya, saling keterkaitannya, dan aspek lingkungan dari kehidupan di laut itu.
  3. Oseanografi fisika (physical oceanography): mempelajari berbagai aspek fisika air laut seperti gerakan air laut, distribusi temperatur air laut, transmisi cahaya, suara, dan berbagai tipe energi dalam air laut, dan interaksi udara (atmosfer) dan laut (hidrosfer).
  4. Oseanografi geologi (geological oceanography): mempelajari konfigurasi cekungan laut, asal usul cekungan laut, sifat batuan dan mineral yang dijumpai di dasar laut, dan berbagai proses geologi di laut. Kata lain untuk menyebutkan oseanografi geologi adalah geologi laut (marine geology).
  5. Oseanografi meteorologi (meteorological oceanography): mempelajari fenomena atmosfer di atas samudera, pengaruhnya terhadap perairan dangkal dan dalam, dan pengaruh permukaan samudera terhadap proses-proses atmosfer
Pengelompokan oseanografi menjadi lima kelompok seperti di atas menunjukkan bahwa oseanografi adalah ilmu antar-disiplin. Sebagai contoh, proses atau kondisi geologi suatu kawasan laut dapat mempengaruhi karakteristik fisika, kimia dan biologi laut tersebut.

MENGAPA MEMPELAJARI OSEANOGRAFI?

Orang mempelajari oseanografi antara lain karena alasan-alasan berikut ini:
  1. Memenuhi rasa ingin tahu. Di masa lalu, ketika otoritas ilmu pengetahuan masih terbatas pada kalangan tertentu, hal ini terutama dilakukan oleh para filosof. Sekarang, di masa moderen, ketika semua orang memiliki kebebasan berpikir dan berbuat yang lebih luas, mempelajari laut hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu dapat dilakukan oleh siapapun.
  2. Kemajuan ilmu pengetahuan. Mempelajari oseanografi untuk kemajuan ilmu pengetahuan banyak dilakukan di masa sekarang. Berbeda dari mempelajari untuk memenuhi rasa ingin tahu di masa lalu, mempelajari untuk kemajuan ilmu pengetahuan dilakukan secara sistimatis dan ilmiah berdasarkan hasil-hasil penelitian atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Kemudian, hasil-hasil dari kegiatan ini dipublikasikan secara luas di dalam jurnal-jurnal atau majalah-majalah ilmiah.
  3. Memanfaatkan sumberdaya hayati laut: seperti memanfaatkan ikan-ikan dan berbagai jenis biota laut sebagai sumber bahan pangan, dan bahan obat-obatan. Mempelajari oseanografi untuk tujuan ini secara umum dilakukan berkaitan dengan upaya untuk mengetahui keberadaan sumberdaya, potensinya, cara mengambil dan, dan upaya-upaya melestarikannya.
  4. Memanfaatkan sumberdaya non-hayati laut: seperti mengambil bahan tambang (bahan galian dan mineral), minyak dan gas bumi, energi panas, arus laut, gelombang dan pasang surut. Berkaitan dengan tujuan ini, studi oseanografi dilakukan untuk mengetahui kehadiran, potensi, dan karakter sumberdaya.
  5. Memanfaatkan laut untuk sarana komunikasi: seperti membangun sistem komunikasi kabel laut. Studi dilakukan untuk menentukan bagaimana teknik atau cara atau lokasi untuk meletakkan alat komunikasi itu di laut.
  6. Memanfaatkan laut untuk sarana perdagangan: misal untuk pelayaran kapal-kapal dagang. Studi oseanografi perlu dilakukan untuk menentukan dan merawat alur-alur pelayaran, serta tempat-tempat berlabuh atau pelabuhan.
  7. Untuk pertahanan negara menentukan batas-batas negara. Studi oseanografi untuk pertahanan negara terutama berkaitan dengan keperluan pertahanan laut, seperti untuk menentukan alur-alur pelayaran baik untuk kapal di permukaan laut maupun kapal selam, tempat-tempat pendaratan atau berlabuh yang aman, kehadiran saluran suara. Sementara itu, untuk keperluan menentukan batas-batas negara di laut perlu dilakukan studi oseanografi berkaitan dengan penentuan batas landas kontinen yang dipakai sebagai dasar untuk menentukan batas-batas negara di laut.
  8. Menjaga lingkungan laut dari kerusakan dan pencemaran lingkungan karena aktifitas manusia. Berkaitan dengan tujuan ini, oseanografi dipelajari untuk mengetahui bagaimana respon lingkungan laut terhadap berbagai bentuk aktifitas manusia.
  9. Mitigasi bencana alam dari laut, seperti erosi pantai oleh gelombang laut, banjir dan bencana karena gelombang tsunami. Bencana alam dari laut berkaitan erat dengan prosesproses yang terjadi di laut. Dengan demikian, untuk dapat menghindari atau mengurangi kerugian karena bencana tersebut, kita perlu memahami karakter proses-proses tersebut dan hasil-hasilnya.
  10. Untuk rekreasi. Sekarang, kegiatan rekreasi banyak dilakukan di laut atau daerah pesisir, seperti menikmati pemandangan laut, berenang di laut, berjemur di pantai, menyelam, berselancar, berlayar. Untuk dapat menentukan lokasi yang sesuai untuk berbagai kegiatan rekreasional tersebut perlu dilakukan studi oseanografi. Sebagai contoh, untuk kegiatan wisata selam untuk menikmati keindahan terumbu karang, perlu dilakukan penelitian mengenai terumbu karang itu sendiri sehingga dapat diketahui lokasi keberadaan tempat-tempat yang menarik. Selain itu, untuk keamanan selama menyelam perlu dipelajari kondisi arus dan hewan-hewan yang berbahaya di lokasi wisata menyelam tersebut
Indonesia adalah suatu negara kepulauan. Diakuinya konsep wawasan nusantara dan negara kepulauan oleh dunia internasional membuat Indonesia menjadi suatu negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan wilayah negara yang sangat luas dan sebagian besar berupa laut, dan memiliki daratan berpulau-pulau, maka bagi Indonesia mempelajari oseanografi menjadi sangat penting. Banyak sumberdaya alam Indonesia yang berada di laut, baik sumberdaya hayati maupun sumberdaya non-hayati. Sumberdaya laut yang sangat banyak itu hanya akan dapat dimanfaatkan dengan berkesinambungan bila kita mempelajarinya.

Selain sebagai sumberdaya, laut juga menjadi sumber bencana, terutama bagi penguni daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. Bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut yang sangat luas dan pulau-pulau yang sangat banyak, tentu akan besar pula potensi bencana dari laut. Oleh karena itu, dalam rangka upaya melakukan mitigasi bencana alam dari laut, maka mempelajari oseanografi juga merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1973. Oceanography: An Introduction, Wadsworth Publishing Company, Inc., Belmont, California, 325 p.

Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1985. Oceanography: An Introduction, 3rd Edition, Wadsworth Publishing Company, Belmont, California, 530 p.

Ross, D.A., 1977. Introduction to Oceanography, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey, 438 p.
....READ MORE - OSEANOGRAFI DAN OSEANOLOGI

TENAGA EKSOGEN

Eksogen, atau tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi. Sifatnya merusakatau merombak permukaan bumi yang sudah terbentuk oleh tenaga endogen. Tenaga eksogen juga mengakibatkan bentuk-bentuk muka bumi. Tenaga eksogen dapat berasal dari tenaga air, angin, dan organisme yang menyebabkan terjadinya proses pelapukan, erosi, denudasi, dan sedimentasi. Contoh seperti bukit atau tebing yang terbentuk hasil tenaga endogen terkikis oleh angin, sehingga dapat mengubah bentuk permukaan bumi.

Di permukaan laut, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta sedimentasi. Misalnya di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme atau vulkanisme. Mula-mula bukit dihancurkannya melalui tenaga pelapukan, kemudian puing-puing yang telah hancur diangkut oleh tenaga air, angin, gletser atau dengan hanya gravitasi bumi. Hasil pengangkutan itu kemudian diendapkan, ditimbun di bagian lain yang akhirnya membentuk timbunan atau hamparan bantuan hancur dari yang kasar sampai yang halus.

Contoh lain dari tenaga eksogen adalah pengikisan pantai. Setiap saat air laut menerjang pantai yang akibatnya tanah dan batuannya terkikis dan terbawa oleh air. Tanah dan batuan yang dibawa air tersebut kemudian diendapkan dan menyebabkan pantai menjadi dangkal. Di daerah pegunungan bisa juga ditemukan sebuah bukit batu yang kian hari semakin kecil akibat tiupan angin.

Secara umum tenaga eksogen berasal dari 3 sumber, yaitu:
  • Atmosfer, yaitu perubahan suhu dan angin.
  • Air yaitu bisa berupa aliran air, siraman hujan, hempasan gelombang laut, gletser, dan sebagainya.
  • Organisme yaitu berupa jasad renik, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
Perusakan bentuk muka bumi oleh tenaga eksogen berupa pelapukan, pengikisan (erosi) dan pengendapan. 

1.  Pelapukan 

Pelapukan adalah penghancuran batuan dari bentuk gumpalan menjadi butiran yang lebih kecil bahkan menjadi hancur atau larut dalam air. Proses pelapukan dapat dikatakan sebagai proses penghancuran massa batuan melalui media penghancuran, berupa:
  1. Sinar matahari
  2. Air
  3. Gletser
  4. reaksi kimiawi
  5. kegiatan makhluk hidup (organisme)
Pelapukan Organis
Pelapukan Organis

Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:

- pelapukan fisis atau mekanik

Pelapukan Mekanis
Pelapukan Mekanis
- pelapukan organis
- pelapukan kimiawi
  1. Pelapukan fisik dan mekanik.
Pelapukan mekanik (fisik) adalah proses pengkikisan dan penghancuran bongkahan batu jadi bongkahan yang lebih kecil,tetapi tidak mengubah unsur kimianya. Proses ini disebabkan oleh sinar matahari, perubahan suhu tiba-tiba, dan pembekuan air pada celah batu.

Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:

1. Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim Gurun, di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat mencapai 50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
2. Adapun pembekuan air di dalam batuan
Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu-batuan menjadi rusak atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.
3. Berubahnya air garam menjadi kristal.
Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguap dan garam akan mengkristal. Kristal garam garam ini tajam sekali dan dapat merusak batuan pegunungan di sekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai.

2.Pelapukan organik

Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan danmanusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga. Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akarakar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.

3. Pelapukan kimiawi

Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa pengelupasan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO3). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst. Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonasia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi.

Gejala atau bentuk – bentuk alam yang terjadi di daerah karst diantaranya:

a. Dolina
Dolina adalah lubang lubang yang berbanuk corong. Dolina dapat terjadi karena erosi (pelarutan) atau karena runtuhan. Dolina terdapat hampir di semua bagian pegunungan kapur di Jawa bagian selatan, yaitu di pegunungan Seribu.
b. Gua dan sungai di dalam Tanah
Di dalam tanah kapur mula-mula terdapat celah atau retakan. Retakan akan semakin besar dan membentuk gua-gua atau lubang-lubang, karena pengaruh larutan. Jika lubang-lubang itu berhubungan, akan terbentuklah sungai-sungai di dalam tanah.
c. Stalaktit
adalah kerucut kerucut kapur yang bergantungan pada atap gua. Terbentuk dari kapur yang tebal akibat udara masuk dalam gua. Stalakmit adalah kerucut-kerucut kapur yang berdiri pada dasar gua. Contohnnya stalaktit dan stalakmit di Gua tabuhan dan gua Gong di Pacitan, jawa Timur serta Gua Jatijajar di Kebumen, Jawa Tengah.
Stalagtit-Stalagmit
Stalagtit-Stalagmit 

2.  Erosi
Erosi seperti pelapukan adalah tenaga perombak (pengkikisan). Tapi yang membedakan erosi dengan pelapukan adalah erosi adalah pengkikisan oleh media yang bergerak,seperti air sungai, angin, gelombang laut, atau gletser. Erosi dibedakan oleh jenis tenaga perombaknya yaitu : Erosi air, Erosi gelombang laut (abarasi / erosi marin ), Erosi angin (deflasi), Erosi gletser (glasial)’,Erosi Akibat gaya berat.
  1. Erosi Air
Erosi oleh air adalah  erosi yang di sebabkan oleh air atau air hujan.Jika tingkat curah hujan berlebihan sedemikian rupa sehingga tanah tidak dapat menyerap air hujan maka terjadilah genangan air yang mengalir kencang.Aliran air ini sering menyebabkan terjadinya erosi yang parah karena dapat mengikis lapisan permukaan tanah yang dilewatinya, terutama pada tanah yang gundul.
Erosi oleh air laut ( Abrasi )
Erosi oleh air laut ( Abrasi )

Tahapan Erosi Air

Proses pengikisan oleh air yang mengalir terjadi dalam empat tingkatan yang berbeda sesuai dengan kerusakan tanah atau batuan yang terkena erosi, sebagai berikut.
1. Erosi percik, yaitu proses pengkikisan oleh percikan air hujan yang jatuh ke bumi.
2. Erosi lembar, yaitu proses pengkikisan lapisan tanah paling atas sehingga kesuburannya berkurang. Pengikisan lembar ditandai oleh :
  • warna air yang mengalir berwarna coklat
  • warna air yang terkikis menjadi lebih pucat
  • kesuburan tanah berkurang
3. Erosi alur, adalah lanjutan dari erosi lembar. Ciri khas erosi alur adalah adanya alur-alur pada tanah sebagai tempat mengalirnya air.
4. Erosi parit, adalah terbentuknya parit-parit atau lembah akibat pengikisan aliran air. Bila erosi parit terus berlanjut, maka luas lahan kritis dapat meluas, dan pada tingkat ini tanah sudah rusak.

Bentuk Permukaan Bumi Akibat Erosi
Pengkikisan oleh air dapat mengakibatkan :
  1. Tebing sungai semakin dalam
  2. Lembah semakin curam
  3. Pembentukan gua
Pengikisan oleh air laut (abrasi)
Erosi oleh air laut merupakan pengikisan di pantai oleh pukulan gelombang laut yang terjadi secara terus – menerus terhadap dinding pantai. Bentang alam yang diakibatkan oleh erosi air laut, antara lain cliff (tebing terjal), notch (takik), gua di pantai, wave cut platform (punggung yang terpotong gelombang), tanjung, dan teluk. Cliff terbentuk karena gelombang melemahkan batuan di pantai. Pada awalnya gelombang meretakan batuan di pantai. Akhirnya, retakan semakin membesar dan membentuk notch yang semakin dalam akan membentuk gua. Akibat diterjang gelobang secara terus menerus mengakibatkan atap gua runtuh dan membentuk cliff dan wave cut playform.
Tanjung adalah daratan yang menjorok ke laut, sedang teluk adalah laut yang menjorok ke arah daratan. Pantai memiliki jenis batuan yang berselang seling antara batuan resisten dan tidak resisten. Pada batuan yang tidak resisten akan dengan mudah tererosi, sedangkan batuan yang resisten sulit untuk tererosi. Akibatnya, pada batuan yang tidak resisten akan terbentuk teluk yang menjorok ke daratan pada batuan yang resisten terbentuk tanjung yang menjorok ke laut.
  • Akibat Abrasi
Abrasi biasanya terjadi di pantai, membentuk :
  1. Dinding pantai yang curam
  2. Relung ( lekukan pada dinding tebing)
  3. Gua pantai
  4. Batu layar
  5.  Cliff
  6. Notch
  7. Gua di pantai
  1. EROSI OLEH ANGIN (korasi)
Erosi oleh angin
Erosi oleh angin

Erosi oleh angin adalah pengikisan yang disebabkan oleh angin. Hembusan angin kencang yang terus menerus di daerah yang tandus dapat memindahkan partikel-partikel halus batuan di daerah tersebut sehingga membentuk suatu formasi, misalnya bukit-bukit pasir di gurun atau pantai.
Pengikisan oleh angin ( erosi angin biasanya terjadi di gurun ) dapat mengakibatkan :

Batu jamur
Akibat pelapukan mekanis

Erosi oleh gletser
Merupakan pengikisan yang dilakukan oleh gletser (lapisan es) di daerah pegunungan. Pengikisan ini terjadi di daerah yang memiliki empat musim. Pada saat musim semi, terjadi erosi oleh gletser yang meluncur menuruni lembah. Akibatnya lereng menjadi lebih terjal.Contoh bentang alam yang terjadi akibat erosi gletser adalah pantai fyord, yaitu pantai dengan dinding yang berkelok kelok.

Erosi Akibat Gaya Berat
Batuan atau sedimen yang bergerak terhadap kemiringannya merupakan proses erosi yang disebabkan oleh gaya berat .Erosi  ini akan berlangsung sangat cepat sehingga dapat menimbulkan  bencana longsor.

3.  Sedimentasi ( pengendapan )
Sedimentasi adalah peristiwa pengendapan material batuan yang telah diangkut oleh tenaga air atau angin .
Proses sedimentasi atau pengendapan berdasarkan tenaga pengangkutnya :
1. Pengendapan air ( akuatik)
a)    Meander
Meander merupakan sungai yang berkelok – kelok yang terbentuk karena adanya pengendapan. Proses berkelok-keloknya sungai dimulai dari sungai bagian hulu.Pada bagian hulu, volume air kecil dan tenaga yang terbentuk juga kecil.  Akibatnya sungai mulai menghindari penghalang dan mencari rute yang paling mudah dilewati. Sementara, pada bagian hulu belum terjadi pengendapan. Pada bagian tengah, yang wilayahnya mulai datar aliran air mulai lambat dan membentuk meander. Proses meander terjadi pada tepi sungi, baik bagian dalam maupun tepi luar. Di bagian sungai yang aliranya cepat akan terjadi pengikisan sedangkan bagian tepi sungai yang lamban alirannya akan terjadi pengendapan. Apabila hal itu berlangsung secara terus-menerus akan membentuk meander.
Meander
Meander

Meander biasanya terbentuk pada sungai bagian hilir, dimana pengikisan dan Pengendapan terjadi secara berturut turut. Proses pengendapan yang terjadi secara terus menerus akan menyebabkan kelokan sungai terpotong dan terpisah dari aliran sungai, Sehingga terbentukoxbow lake.

2. Delta
Pada saat aliran air mendekati muara, seperti danau atau laut maka kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terkadi pengendapan sedimen oleh air sungai. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat dan Lumpur akan tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama , akan terbentuk lapisan – lapisan sedimen. Akhirnya lapian lapisan sedimen membentuk dataran yang luas pada bagian sungai yang mendekati muaranya dan membentuk delta.

Pembetukan delta memenuhi beberapa syarat:
1. sedimen yang dibawa oleh sungai harus banyak ketika akan masuk laut atau danau.
2. arus panjang di sepanjang pantai tidak terlalu kuat.
3. pantai harus dangkal. Contoh bentang alam ini adalah delta Sungai Musi, Kapuas, dan Kali Brantas.

3. Dataran banjir dan tanggul alam
Apabila terjadi hujan lebat, volume air meningkat secara cepat. Akibatnya terjadi banjir dan meluapnya air hingga ke tepi sungai. Pada saat air surut,bahan bahan yang terbawa oleh air sungai akan terendapkan di tepi  sungai. Akibatnya, terbentuk suatu Dataran di tepi sungai. Timbulnya material yang tidak halus (kasar) terdapat pada tepi sungai. Akibatnya tepi sungai lebih tinggi dibandingkan dataran banjir yang terbentuk. Bentang alam itu disebut tanggul alam.

b. Pengendapan air laut ( sedimen marine)
a)    Slip dan Tombolo
Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine.Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil pengendapan oleh air laut, antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang pantai.Pesisir merupakan wilayah pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya terdiri dari material pasir. Ukuran dan komposisi material di pantai sangat berfariasi tergantung pada perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut. Arus pantai mengangkut material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjadi perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material material ke laut yang dalam. ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi pengendapan material. Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas permukaan laut. Akumulasi material itu disebut spit. Jika arus pantai terus berlanjut, spit akan semakin panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati teluk dan membentuk penghalang pantai (barrier beach).
Barrier Reef
Barrier Reef

Apabila di sekitar spit terdapat pulam, biasanya spit akhirnya tersambung dengan daratan, sehingga membentuk tombolo.

c. Pengendapan Angin (sedimen aeolis)
Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis. Bentang alam hasil pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune). Gumuk pantai dapat terjadi di daerah pantai maupun gurun. Gumuk pasir terjadi bila terjadi akumulasi pasir yang cukup banyak dan tiupan angin yang kuat. Angin mengangkut dan mengedapkan Pasir di suatu tempat secara bertahap sehingga terbentuk timbunan pasir yang disebut gumuk pasir/sand dune.

Sand Dune (Bukit Pasir)
Sand Dune (Bukit Pasir)

d. Pengendapan oleh gletser
Sedimen hasil pengendapan oleh gletser disebut sedimen glacial. Bentang alam hasil Pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah yang semula berbentuk V menjadi U. Pada saat musim semi tiba, terjadi pengikisan oleh gletser yang meluncur menuruni lembah. Batuan atau tanah hasil pengikisan juga menuruni lereng dan mengendap di lemah. Akibatnya, lembah yang semula berbentuk V menjadi berbentuk U.
Kipas alluvial
Kipas alluvial

Dampak positif tenaga eksogen antara lain:
1. Memunculkan habitat.
2. Memperluas daratan di bumi.
3. Memperdekat barang tambang ke permukaan bumi.

Meskipun begitu tenaga eksogen juga mempunyai dampak negatif yang bisa merugikan manusia.

Dampak negatif tenaga eksogen tersebut antara lain:
  1. Kesuburan tanah bisa berkurang (dampak dari erosi).
  2.  Hasil-hasil erosi yang diendapkan (sedimentasi) di muara sungai mengakibatkan  pendangkalan dasar sungai.
  3.  Abrasi dapat menghilangkan garis pantai hilang dihantam
....READ MORE - TENAGA EKSOGEN

Tuesday, May 29, 2012

Hujan

Pada musim kemarau, hujan selalu ditunggu-tunggu kedatangannya
karena akan membasahi Bumi dan menumbuhkan vegetasi. Hujan
yang turun menambah persediaan air tanah setelah meresap ke dalam
tanah.


Hujan


Kamu pasti pernah kehujanan.

Dalam meteorologi, istilah hujan dibatasi
hanya untuk tetes air yang
jatuh dari angkasa dan memiliki diameter
paling kecil 0,5 mm (0,002
inci). Kebanyakan hujan berasal awan
nimbostratus atau cumulonimbus.
Awan nimbostratus dapat menimbulkan
curah hujan lebat yang dikenal
dengan cloudbursts atau awan
ledakan.
Tetes hujan jarang berdiameter
lebih dari 5 mm (0,2 inci). Jika
melebihi 5 mm, butiran hujan akan
pecah menjadi butiran yang lebih kecil. Mengapa? Karena adanya tegangan
permukaan (surface tention) yang menahan butiran-butiran hujan. Pada
saat jatuh, butiran-butiran hujan bergesekan dengan udara. Akibatnya,
butiran hujan berukuran besar pecah menjadi butiran yang lebih kecil.
Butiran hujan halus memiliki diameter kurang dari 0,5 mm (0,002 inci)
yang disebut drizzle. Drizzle dapat berukuran begitu kecil sehingga
melayang di udara dan hampir tidak dapat dilihat. Drizzle dan butiran hujan
kecil umumnya berasal dari awan stratus atau nimbostratus dan terjadi
pada saat hujan selama beberapa jam. Jarang terjadi pada hujan yang
berlangsung seharian.


a. Proses Terjadinya Hujan
Hujan terjadi karena ada penguapan air dari permukaan Bumi
seperti laut, danau, sungai, tanah, dan tanaman. Pada suhu udara
tertentu, uap air mengalami proses pendinginan yang disebut
dengan kondensasi. Selama kondensasi berlangsung uap air yang
berbentuk gas berubah menjadi titik-titik air kecil yang melayang
di angkasa. Kemudian, jutaan titik-titik air saling bergabung
membentuk awan. Ketika gabungan titik-titik air ini menjadi besar
dan berat maka akan jatuh ke permukaan Bumi. Proses ini disebut
dengan presipitasi atau hujan.

Apakah ukuran butir-butir hujan sama? Hujan
memiliki ukuran butir yang berbeda-beda. Berdasarkan
ukuran butirannya, hujan dibedakan sebagai berikut.
1) Hujan gerimis (drizzle), diameter butir-butir air
hasil kondensasi kurang dari 0,5 mm.
2) Hujan salju (snow), terdiri atas kristal-kristal es
dengan suhu udara berada di bawah titik beku.
3) Hujan batu es, merupakan curahan batu es yang
turun di dalam uap panas dari awan dengan suhu
udara di bawah titik beku.
4) Hujan deras (rain), yaitu curahan air yang turun
dari awan dengan suhu udara di atas titik beku dan
diameter butirannya kurang lebih 5 mm.






b. Pengukuran Hujan
Jumlah hujan yang jatuh di suatu daerah selama
waktu tertentu disebut curah hujan. Untuk mengetahui
besarnya curah hujan digunakan alat yang disebut
penakar hujan (rain gauge). Alat ini terdiri atas corong
dan penampung air hujan. Corong berfungsi mengumpulkan
air hujan dan menyalurkan ke penampung. Air
hujan yang tertampung secara teratur harus dikosongkan
dan jumlahnya diukur menggunakan tabung
penakar. Curah hujan biasanya diukur dalam milimeter
(mm) atau sentimeter (cm).
Jumlah hujan yang sudah diukur kemudian dicatat
untuk berbagai tujuan. Beberapa jenis data hujan dapat
diperoleh dari hasil pengukuran hujan, antara lain:


1) Jumlah curah hujan harian.
Merupakan hasil pengukuran hujan selama 24 jam.
2) Curah hujan bulanan.
Merupakan jumlah total curah hujan harian selama sebulan.
3) Curah hujan tahunan.
Merupakan jumlah total curah hujan harian selama 12 bulan.
....READ MORE - Hujan

Pengukuran Angin

Angin memiliki dua unsur utama, yaitu kecepatan dan arah angin.
Keduanya diukur dengan alat yang berbeda.

1) Kecepatan Angin
Kecepatan angin diukur dengan anemometer.
Alat ini terdiri atas tiga cangkir (cup) yang dipasang
pada ujung tangkai secara horizontal. Bila angin
bertiup maka cangkir akan berputar.
Perputaran cangkir menyebabkan bagian
tengah juga berputar dan kecepatan angin dapat
diketahui. Kecepatan angin diukur dalam satuan
knots atau kilometer/jam, kadang-kadang ditunjukkan
dengan skala Beaufort.


2) Arah Angin
Angin selalu diukur sesuai arah tiupannya. Angin
utara menunjukkan bahwa angin bertiup dari arah
utara ke selatan. Arah angin dapat diketahui dengan
menggunakan bendera angin (wind vane). Alat ini
selalu mengarah dari mana angin bertiup.


3) Mawar Angin (Wind Rose)
Angin dapat bertiup dari satu arah secara terus-menerus.
Angin ini disebut angin dominan (prevailing wind). Pencatatan
arah angin yang dominan bertiup seharian dalam sebulan
dapat dilakukan dengan mawar angin. Pencatatan ini membentuk
segi delapan (oktagonal) yang mewakili delapan arah
mata angin. Setiap lengan menunjukkan tanggal ke mana arah
angin bertiup. Angka di tengah-tengah menunjukkan jumlah
hari tanpa terjadi angin.
....READ MORE - Pengukuran Angin

Sistem Angin

Berdasarkan gerakan dan sifatnya, angin dapat dibedakan
menjadi:


1) Angin Pasat dan Angin Antipasat
Angin pasat terdiri atas angin pasat tenggara yang bertiup
di belahan Bumi selatan dan angin pasat timur laut yang
bertiup di belahan Bumi utara. Angin pasat bertiup tetap
sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju
daerah ekuator (khatulistiwa). Angin antipasat
adalah nama lain dari angin barat, yang merupakan
kebalikan dari angin pasat. Coba perhatikan
gambar 7.13.
Angin di atas khatulistiwa yang mengalir ke
daerah kutub dan turun di daerah maksimum
subtropik. Angin ini disebut angin antipasat. Di
belahan Bumi utara disebut angin antipasat barat
daya dan di belahan Bumi selatan disebut angin
antipasat barat laut. Pada daerah sekitar lintang 20°–
30°LU dan LS, angin antipasat kembali turun secara
vertikal sebagai angin kering. Angin kering ini
menyerap uap air di udara dan permukaan daratan.
Akibatnya, terbentuk gurun di muka Bumi. Misalnya
gurun di Arab Saudi, gurun Afrika, atau gurun
di Australia.


2) Angin Muson
Di Indonesia, terdapat dua jenis angin muson, yaitu angin
muson barat dan angin muson timur. Bagaimana perbedaan
keduanya? 

Angin muson barat bertiup pada bulan Oktober–April, saat
itu kedudukan Matahari berada di belahan Bumi selatan atau
Benua Australia. Sedangkan angin muson timur bertiup pada
bulan April–Oktober, saat itu kedudukan Matahari berada di
belahan Bumi utara atau Benua Asia.


3) Angin Lokal
Angin lokal hanya dirasakan di wilayah yang relatif sempit
dan pengaruhnya tidak luas. Apa saja jenis angin lokal yang
kamu ketahui.



4) Angin Fohn
Angih fohn terjadi dalam satu rangkaian dengan
hujan orografik. Setelah angin yang membawa uap
air menaiki puncak gunung dan menurunkan hujan
pada posisi lereng gunung, kemudian angin bertiup
menuruni sisi lereng gunung di sebaliknya.
Berdasarkan gambar 7.20, coba jelaskan proses
terjadinya angin fohn dan sifat anginnya.

Angin fohn memiliki nama yang berbeda-beda di banyak
daerah. Beberapa angin fohn yang bertiup di Indonesia sebagai
berikut.


a) Angin Brubu terdapat di Sulawesi Selatan.
b) Angin Bohorok terdapat di Deli, Sumatra Utara.
c) Angin Kumbang terdapat di Cirebon, Jawa Barat.
d) Angin Gending terdapat di Pasuruan dan Probolinggo, Jawa
Timur.
e) Angin Wambrau terdapat di Papua.


5) Angin yang Bersifat Dingin
Jenis angin yang bersifat dingin antara lain sebagai berikut.
a) Angin Mistral
Angin ini berasal dari pegunungan menuju ke dataran
rendah di pantai. Sebagai contoh angin yang bertiup di
pantai Laut Tengah, selatan Prancis.
b) Angin Bora
Angin bora bertiup di wilayah Balkan. Angin ini turun
dari Dataran Tinggi Balkan ke Pantai Istria dan Albania.


6) Angin Siklon dan Angin Antisiklon
Angin siklon dan angin antisiklon yang bertiup
di belahan Bumi utara dan belahan Bumi selatan
arahnya berbeda. Perhatikan gambar 7.21.
Dari gambar itu, apa yang dapat kamu amati
mengenai angin siklon dan angin antisiklon, baik
di belahan Bumi utara ataupun belahan Bumi
selatan?
Di daerah tropis, angin siklon lebih sering
terjadi di laut dan hampir tidak pernah terjadi di
sekitar khatulistiwa. Di Indonesia angin siklon
hanya terjadi di Pulau Timor, yaitu pada 11°LS.
Angin siklon memiliki kecepatan yang sangat
kuat sehingga bersifat merusak. Penyebutan angin
siklon untuk masing-masing daerah berbeda-beda.
Contoh:


a) Angin siklon di Samudra Atlantik disebut
Hurricane.
b) Angin siklon di Laut Cina Selatan disebut
Taifun.
c) Angin siklon di Teluk Benggala dan Laut Arab
disebut Siklon.
d) Angin siklon di Amerika daerah tropis disebut
Tornado.
e) Angin siklon di Asia Barat disebut Sengkejan.
Angin antisiklon tidak kuat seperti halnya angin siklon.
Kondisi cuaca daerah yang berangin antisiklon, cerah tidak
berawan. Angin ini merupakan angin turun, sehingga lebih
panas dan lebih kering dibanding angin siklon.


7) Daerah Konvergensi Antartropik (DKAT)
Daerah Konvergensi Antartropik (DKAT) merupakan
daerah pertemuan antara angin pasat tenggara dan angin pasat
timur laut atau disebut equator thermal. Daerah ini ditandai
dengan keadaan di sekitarnya memiliki suhu tinggi. Akibat

kenaikan massa udara, wilayah DKAT terbebas dari angin
topan dan dinamakan Doldrum atau daerah tenang
khatulistiwa (equatorial calm). DKAT selain sebagai tempat
terbentuknya konvergensi massa udara naik, juga sebagai
pembentuk awan yang menimbulkan hujan lebat.



Pengaruh DKAT di Indonesia, yaitu:


a) Menyebabkan hujan frontal dan hujan zenit.
b) Penguapan tinggi, karena suhu tinggi dan laut Indonesia
sangat luas.
c) Garis DKAT terbentuk karena suhu udara di sekitar
khatulistiwa tinggi.
....READ MORE - Sistem Angin

Monday, May 28, 2012

Kerusakan Tanah dan Dampaknya bagi Kehidupan

Tanah menjadi media hidup bagi banyak makhluk hidup di Bumi
ini, termasuk kita manusia. Bahkan manusia memegang kendali utama
dalam penggunaan tanah. Berbagai cara ditempuh untuk mengoptimalkan
kegunaan tanah, mulai dari kegiatan pertanian, pertambangan,
dan aktivitas penggunaan lahan lainnya. Kita sering tidak
menyadari bahwa pemanfaatan tersebut telah menimbulkan penurunan
kualitas tanah. Bagaimana kerusakan itu bisa terjadi?


a. Erosi
Erosi seperti yang telah dibahas di depan juga merupakan
salah satu bentuk kerusakan tanah. Pengikisan yang terjadi
membuat materi tanah terlarut hingga akhirnya tanah kehilangan
unsur haranya. Akibatnya, tanah akan kehilangan kesuburannya.

Tidak hanya itu, terkikisnya lapisan tanah menyebabkan rusaknya
struktur tanah, hingga kemampuan menyerap air menjadi
berkurang. Tahukah kamu bagaimana akibatnya?
Dampak erosi tidak hanya akan dirasakan oleh tempat di
sekitar terjadinya erosi, tetapi juga wilayah yang menjadi daerah
pengendapan hasil erosi. Sedimentasi di sungai mengakibatkan
menurunnya daya tampung sungai. Bisa kamu bayangkan akibatnya?
Tanah yang semula subur akan kehilangan kesuburannya
akibat tertimbun oleh materi hasil erosi. Aliran air sungai yang
membawa material terlarut akan menjadi keruh. Kekeruhan
memengaruhi daya tembus sinar matahari ke dalam sungai. Jika
air keruh, sinar matahari tidak lagi mampu menembus air sungai.
Sementara itu, di sungai terdapat berbagai organisme yang
memerlukan sinar matahari untuk menunjang kehidupannya.


b. Penggundulan Hutan
Penyebab penggundulan hutan adalah bertambahnya
permintaan lahan untuk permukiman, sehingga lahanlahan
hutan diubah menjadi permukiman. Selain
permintaan lahan permukiman meningkat, penyebab
lain adalah perladangan berpindah dan kepentingan
ekonomi. Karena kayu dan hasil hutan merupakan
komoditas ekspor yang bernilai tinggi, maka penebangan
hutan menjadi marak dan tidak terkendali lagi.
Akibat hutan gundul, satwa liar akan kehilangan
habitatnya hingga akhirnya untuk mempertahankan
hidup sulit. Jika sudah begini kamu pasti tahu dampaknya
bagi lingkungan. Selain itu, fungsi hutan yang
selama ini sebagai paru-paru dunia dan penyimpan
cadangan air akan hilang. Bagaimana dampaknya bagi
lingkungan?


c Polusi
Polusi tidak hanya terjadi di udara, tetapi juga di tanah
dan air. Polusi disebabkan pembuangan limbah, baik
itu limbah industri ataupun limbah rumah tangga ke
dalam tanah, air, dan udara.
d. Kebakaran Hutan
Tahukah kamu kebakaran hutan di Kalimantan dan
Sumatra yang terjadi sepanjang tahun 2006? Kebakaran
hutan ini menyebabkan penurunan biomas di dalam
tanah, sehingga produktivitas tanah menurun. Selain
itu, kebakaran hutan juga akan meningkatkan erosi
tanah.


e. Eksploitasi Tambang yang Berlebihan
Bahan-bahan tambang seperti emas, tembaga, dan bahan galian C
(pasir dan batu) dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Eksploitasi bahan-bahan tambang yang berlebihan, tanpa
memerhatikan lingkungan akan berdampak negatif di kemudian
hari. Lahan yang telah ditambang akan meninggalkan lubanglubang
yang mengangga di muka Bumi. Kerusakan lingkungan yang
berupa kesuburan tanah hilang dan perubahan topografi banyak
ditemukan pada lahan tambang yang dieksploitasi secara
berlebihan.



f. Kerusakan Karena Proses Kimiawi Air Hujan
Air hujan merupakan faktor utama terjadinya kerusakan tanah
melalui proses perubahan kimiawi dan sebagian lagi karena
proses mekanis. Proses kimiawi ini menyebabkan tanah menjadi
tidak subur.


g. Kerusakan Karena Proses Mekanis Air Hujan
Air hujan yang turun sangat deras dapat mengikis dan menggores
permukaan tanah sehingga terbentuk selokan. Pada daerah yang
tidak bervegetasi, hujan lebat dapat menghanyutkan tanah
berkubik-kubik. Air hujan dapat pula menghanyutkan lumpur
sehingga terjadi banjir lumpur.


h. Kerusakan Karena Tanah Longsor
Tanah longsor adalah turunnya atau ambruknya tanah dan batuan
ke bagian bawah akibat pengaruh daya gravitasi. Hujan
mempercepat longsornya tanah karena tanah menjadi longsor dan
berat. Pelongsoran hanya terjadi pada lapisan luar yang terlepas
dari permukaan tanah.
....READ MORE - Kerusakan Tanah dan Dampaknya bagi Kehidupan

Gejala Vulkanisme

Peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari dalam perut
bumi disebut dengan vulkanisme. Campuran bebatuan dalam keadaan cair,
liat, serta sangat panas disebut dengan magma. Tingginya suhu magma dan
banyaknya gas di dalam magma menimbulkan aktivitas magma. Magma
itu dapat berupa gas, padat, dan cair.
Gunung api merupakan tempat di permukaan bumi yang pernah atau
masih mengeluarkan magma. Ditinjau dari bentuk dan proses terjadinya,
gunung berapi dapat dibedakan menjadi tiga, sebagai berikut.
a) Gunung api kerucut (strato)
Jenis gunung api yang banyak terdapat di Indonesia ini berbentuk
menyerupai kerucut, terbentuk dari adanya letusan dan lelehan (efusi),
yang terjadi secara bergantian. Gunung ini disebut lava gunung api
strato karena bahannya berlapis-lapis.
b) Gunung api corong (maar)
Bentuk gunung api ini menyerupai danau kecil (danau lava gas kawah).
Keadaan ini terbentuk karena letusan lava padat (eksplosi). Bahannya
terdiri dari efflata. Kondisi ini seperti yang terjadi di lereng Gunung
Lamongan Jawa Timur, Danau Eifel di Prancis, dan di dataran tinggi
Prancis Tengah.
c) Gunung api perisai (tameng)
Gunung api perisai ini berbentuk menyerupai perisai, terjadi pada permukaan
lereng yang landai dengan kemiringan lereng antara 1°–10°.
Gunung api ini terbentuk karena lelehan maupun cairan yang keluar
dan membentuk lereng yang sangat landai. Bahan lavanya bersifat cair
sekali. Misalnya: Gunung Mauna Loa dan Gunung Mauna Kea di Hawaii.

Ditinjau dari aktivitasnya, gunung api dapat dibedakan menjadi tiga
golongan berikut.
a) Gunung aktif, merupakan gunung api yang masih beraktivitas,
mengeluarkan asap pada kawahnya, menimbulkan gempa dan letusan,
seperti Gunung Merapi dan Gunung Stromboli.

b. Gunung istirahat, merupakan gunung api yang sedang istirahat tetapi
sewaktu-waktu dapat meletus dan kemudian istirahat kembali, seperti
Gunung Ciremai.
c. Gunung mati, merupakan gunung api yang sejak tahun 1600 sudah
tidak meletus lagi, misalnya, Gunung Patuha dan Gunung Sumbing.
Berbagai Macam Bahan yang Dikeluarkan oleh Tenaga Vulkanisme
a. Benda Cair
Benda cair terdiri atas berikut.
(1) Lava, adalah magma yang telah keluar.
(2) Lahar panas, merupakan campuran magma dan air, berupa lumpur
panas mengalir.
(3) Lahar dingin, terdiri dari batu, pasir, dan debu di puncak gunung. Jika
hujan lebat, air hujan itu akan bercampur dengan debu dan pasir yang
merupakan bubur kental. Lahar dingin ini akan mengalir ke bawah
melalui lereng dan jurang-jurang dengan derasnya sehingga dapat
menyapu bersih semua yang dilaluinya. Derasnya lahar dingin yang
tidak terbendung akan mengakibatkan tertutupnya sawah-sawah,
terbendungnya sungai-sungai dan saluran-saluran air. Kondisi ini akan
dapat menimbulkan banjir lahar dingin yang didominasi pasir.
b. Efflata (bahan padat)
Berdasarkan asalnya, efflata dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
efflata antogen/pyrodastic atau effata yang berasal dari magma sendiri dan
efflata allogen atau efflata yang berasal dari bebatuan yang berada di sekitar
pipa kawah yang ikut terlempar. Menurut ukurannya, efflata dapat
dibedakan atas bom (batu besar-besar), lapili (batu sebesar kacang/kerikil),
pasir, debu, dan batu apung (batu yang penuh pori udara).
c. Bahan gas (ekshalasi)
Bahan gas terdiri atas:
(1) solftar, yaitu gas (H2S) yang keluar dari lubang;
(2) fumarol, yaitu tempat yang mengeluarkan uap air;
(3) mofet, yaitu tempat yang mengeluarkan CO2 seperti Pegunungan Dieng
dan Gunung Tangkuban Perahu.
Selain beberapa bahaya yang disebabkan oleh letusan gunung api, ada
juga keuntungan atau manfaat yang dapat dirasakan oleh makhluk hidup,
antara lain:
(1) adanya pelapukan abu yang mengandung garam-garam dan mineral
yang dibutuhkan oleh tubuh dapat meningkatkan kesuburan tanah
sehingga tanah di sekitar gunung berapi menjadi tanah yang subur;
(2) menjadi daerah tangkapan hujan atau mendatangkan hujan;
(3) semburan vulkanik dapat memperluas daerah pertanian;

d. meningkatnya jenis tanaman budi daya (tanaman perkebunan) karena
adanya bermacam-macam zona tumbuh-tumbuhan;
e. menjadikan letak mineral (tambang) dekat dengan permukaan tanah;
f. udara yang masih segar dan sangat sejuk dapat dijadikan tempat
pariwisata dan sanatorium.
Peristiwa Post Vulkanis
Peristiwa yang terdapat pada gunung berapi yang sudah mati atau
yang telah meletus sering disebut dengan peristiwa post vulkanis. Peristiwa
ini, antara lain, sebagai berikut.
a) Makdani
Makdani merupakan sumber mata air mineral yang biasanya panas
dan dapat dimanfaatkan untuk pengobatan khususnya penyakit kulit.
b) Geyser
Geyser merupakan mata air yang memancarkan air panas secara
periodik setiap jam, satu hari, atau satu minggu. Tinggi pancarannya
dapat mencapai 10 sampai 100 meter. Contoh: di Selandia Baru, Pulau
Islandia, dan Yellowstone National Park (Amerika).
c) Fumarol
Fumarol adalah sumber gas yang dapat merupakan:
(1) mofet, adalah sumber gas asam arang (CO2), contohnya: Gunung
Tangkuban Perahu;
(2) sumber uap air, contohnya: fumarol gunung-gunung yang terdapat di
Italia dan Islandia;
(3) solfatar, adalah sumber gas belerang (H2S), contohnya: Gunung
Papandayan, Kawah Manuk, dan Gunung Welirang.
3) Gempa Bumi
Getaran permukaan bumi yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan
dari dalam disebut dengan gempa bumi. Dilihat dari intensitasnya, terdapat
dua macam gempa, yaitu:
(1) makroseisme, merupakan gempa yang intensitasnya besar dan dapat
dirasakan tanpa menggunakan alat;
(2) mikroseisme, merupakan gempa yang intensitasnya kecil sekali dan
hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat perekam.
Berbagai hal mengenai gempa bumi ini perlu kita teliti lebih lanjut
supaya kita dapat mengurangi akibat yang ditimbulkannya. Tindakan itu
dapat dilakukan dengan adanya peramalan tentang terjadinya dan upaya
penanggulangannya. Ilmu yang mempelajari gempa bumi, gelombanggelombang
seismik, serta perambatannya disebut seismologi, sedangkan alat
untuk mencatat gempa adalah seismograf. Ada dua macam seismograf, yaitu:

(1) seismograf vertikal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada
arah vertikal;
(2) seismograf horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada
arah horizontal.
Besaran (magnitudo) gempa yang didasarkan pada amplitudo
gelombang tektonik dicatat oleh sismograf dengan menggunakan skala
Richter. Massa yang bebas dari getaran gempa yang disebut massa stasioner.

4) Diatropisme/Tektonisme/Tektogenesa
Perubahan letak lapisan bumi secara mendatar atau vertikal disebut
tektonisme. Bentuk hasil tenaga tektonisme umumnya berupa lipatan dan
patahan. Semua gerak naik dan turun yang menyebabkan perubahan bentuk
kulit bumi disebut dengan gerak tektonik. Gerak ini terbagi menjadi gerak
epirogenetik dan gerak orogenetik

a) Gerak epirogenetik merupakan gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi
yang sangat lambat, berlangsung dalam waktu yang lama, dan meliputi
daerah yang luas. Ada dua macam gerak epirogenetik.
(1) Epirogenetik positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga terlihat
seakan permukaan air laut naik. Keadaan ini akan jelas terlihat jika
kita berada di tepi pantai.
Contoh:
1. Turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan
Maluku dan pulau-pulau barat daya sampai ke Pulau Banda).
2. Turunnya muara Sungai Hudson di Amerika yang dapat dilihat
sampai kedalaman ± 1.700 meter.
3. Turunnya lembah Sungai Kongo sampai dengan 2.000 meter di
bawah permukaan laut.
(2) Epirogenetik negatif, merupakan gerak naiknya daratan sehingga terlihat
seakan permukaan air laut turun.
Contoh:
1. Naiknya Pulau Timor dan Pulau Buton.
2. Naiknya dataran tinggi Colorado di Amerika.
b) Gerak orogenetik, merupakan gerakan pembentuk pegunungan, relatif
lebih cepat daripada gerak epirogenetik. Gerakan ini menyebabkan
tekanan horizontal dan vertikal di kulit bumi, yang menyebabkan
peristiwa dislokasi atau berpindah-pindahnya letak lapisan kulit bumi.
Peristiwa ini dapat menimbulkan lipatan dan patahan.
(1) Lipatan (kerutan)
Adanya gerakan tekanan horizontal yang berakibat berkerut dan
melipatnya kulit bumi, selain itu juga dapat menyebabkan terbentuknya
pegunungan di relief muka bumi. Contoh: pegunungan-pegunungan
tua, seperti Pegunungan Ural dan Allegani. Lipatan ini terjadi pada
zaman primer; pegunungan muda, seperti rangkaian Sirkum
Mediterania dan Sirkum Pasifik yang terjadi pada zaman tersier.
Rangkaian Pegunungan Mediterania dimulai dari Pegunungan Atlas,
Alpen, Balkan, Asia Muka, Himalaya, Hindia Belakang, Sumatra, Jawa,
Nusa Tenggara, sampai Maluku, sedangkan Sirkum Pasifik memanjang
dari pantai Pasifik Amerika, Jepang, Filipina, Papua, Australia, sampai
Selandia Baru.
Lipatan dibagi atas tiga lipatan yaitu: lipatan tegak, lipatan condong,
dan lipatan rebah. Punggung-punggung lipatan disebut antiklinal dan
lembah lipatan disebut sinklinal.
(2) Patahan (retakan)
Gerakan tekanan horizontal dan vertikal menyebabkan retak atau
patahnya lapisan kulit bumi. Misalnya: tanah turun (slenk), tanah naik
(horst), dan tanah bungkuk (fleksur).

....READ MORE - Gejala Vulkanisme

Info Lainnya