Friday, April 20, 2012

Dampak Negatif Zat Psikotropika

Dampak Negatif Zat Psikotropika Salah satu zat psikotropika yang tergolong zat sering digunakan adalah amfetamin untuk mengurangi berat badan karena menghilangkan rasa lapar. Amfetamin juga dapat menghilangkan rasa kantuk bahkan kadang dipakai olahragawan sebagai dopping (tetapi pemakaian dopping tidak sah).
Jika zat psikotropika digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan/kecanduan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem saraf pusat dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal.

Dampak kecanduan narkoba dan/atau zat psikotropika:
Dampak terhadap fisik, antara lain gangguan pada sistem saraf, gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), gangguan pada kulit (dermatologis), dan gangguan pada paru-paru (pulmoner). Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengonsumsi obat pada waktunya).
Dampak terhadap psikis (rohani), antara lain lamban kerja, ceroboh, sering tegang dan gelisah, hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga, agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal, sulit berkonsentrasi,
perasaan kesal dan tertekan, cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
Dampak sosial bagi pecandu zat psikotropika, antara lain gangguan mental, antisosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan, merepotkan dan menjadi beban keluarga, pendidikan menjadi terganggu, serta masa depan suram.

Ciri-Ciri Fisik Korban Ketergantungan Zat Adiktif dan Psikotropika
• Mengalami gangguan pada sistem saraf (neurologis), antara lain kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, dan kerusakan saraf tepi.
• Mengalami gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), antara lain infeksi akut otot jantung dan gangguan peredaran darah.
• Mengalami gangguan pada kulit (dermatologis), antara lain penanahan (abses), alergi, dan eksim.
• Mengalami gangguan pada paru-paru (pulmoner), antara lain penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernapas, dan pengerasan jaringan paru-paru.
• Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati, dan sulit tidur.
• Mengalami gangguan kesehatan reproduksi, yaitu pada endokrin, seperti penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
• Mengalami perubahan periode menstruasi (remaja perempuan), ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
Cara Pencegahan dan Penyembuhan Akibat Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika
Upaya menghentikan penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika tidaklah mudah karena sifat ketagihan dan ketergantungan yang ditimbulkannya sangat kuat. Oleh sebab itu, upaya pengobatan harus diikuti dengan upaya pencegahan agar mantan pecandu tidak kembali lagi menjadi pecandu. Ada tiga tingkat pencegahan, yaitu:
• Pencegahan Primer, yaitu upaya pencegahan agar orang sehat tidak terlibat penyalahgunaan 

zat adiktif dan psikotropika. Pencegahan ini biasanya
dilakukan dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, dan pendekatan melalui keluarga.
• Pencegahan Sekunder, yaitu upaya pencegahan pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (terapi).
• Pencegahan Tersier, yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan.
Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika dalam Bidang Kesehatan

Zat Stimulan, yaitu zat yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran sehingga kemampuan beraktivitas akan meningkat selama beberapa jam. Jenis zat stimulan, antara lain kafein, kokain, dan amfetamin. Contoh zat stimulan yang sekarang disalahgunakan adalah shabu-shabu dan ekstasi.

Zat Depresan, yaitu zat yang menekan sistem saraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Jenis zat adiktif depresan, antara lain opioda dan berbagai turunannya, seperti morfin dan heroin. Contoh yang disalahgunakan adalah putaw.

Zat Narkotika, yaitu zat analgesik kuat yang dapat menghilangkan rasa nyeri dalam pembedahan. Zat yang termasuk kelompok narkotika adalah ganja, opium, dan kokain.
Alkohol, zat yang digunakan untuk membunuh kuman dan bakteri (sebagai desinfektan). Alkohol juga dipakai untuk mencuci alat-alat kedokteran.

1 comment:

Info Lainnya