Wednesday, May 30, 2012

Zaman Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia purba hidup
sangat sulit karena keadaan alam masih belum stabil. Letusan gunung
berapi masih sering terjadi, aliran sungai kadang-kadang berpindah sejalan
dengan perubahan bentuk bumi. Karena sulitnya untuk mencari makanan,
pertumbuhan populasi manusia purba sangat sedikit dan banyak yang
meninggal dan akhirnya punah.


Manusia purba pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan selalu
berpindah-pindah mencari daerah baru yang dapat memberikan makanan
yang cukup. Pada umumnya mereka bergerak tidak terlalu jauh dari sungaisungai,
danau atau sumber-sumber air yang lain, karena binatang buruan
selalu berkumpul di dekat sumber air. Di tempat-tempat yang demikian itu
kelompok manusia prasejarah menantikan binatang buruan mereka. Selain
itu, sungai dan danau juga merupakan sumber makanan, karena terdapat
banyak ikan di dalamnya. Lagi pula di sekitar sungai biasanya tanahnya
subur dan ditumbuhi tanaman yang buahnya atau umbinya dapat dimakan.
Di danau mencari ikan dan kerang, ada pula yang memilih daerah
pedalaman. Tumpukan bekas makanan berupa kulit kerang banyak
ditemukan di pantai atau di tepi sungai. Ada juga yang memilih gua-gua
sebagai tempat sementara berdasarkan penemuan kerangka manusia yang
dikuburkan, rupanya mereka sudah mengenal semacam sistem
kepercayaan. Lama kelamaan kelompok manusia berburu dan
mengumpulkan makanan menunjukkan tanda hidup menetap, suatu
perkembangan ke arah masa bercocok tanam.


Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, mereka telah mulai lebih
lama tinggal di suatu tempat. Ada kelompok-kelompok yang bertempat
tinggal di daerah pantai, ada pula yang memilih tempat tinggal di daerah
pedalaman. Mereka yang tinggal di daerah pantai makanan utamanya
berupa kerang dan ikan laut. Bekas tempat tinggal mereka dapat ditemukan
kembali, karena dijumpai sejumlah besar kulit-kulit kerang yang menyerupai
bukit kulit kerang serta alat-alat yang mereka gunakan. Sisa-sisa makanan
yang berupa timbunan atau gugusan kulit kerang itu, yang artinya sampah
dapur. Ada pun sisa alat-alat yang ditemukan dalam gugusan kulit kerang
antara lain berupa anak panah atau mata tombak yang berbentuk khusus
untuk menangkap ikan.


Kelompok yang memilih bertempat tinggal di daerah pedalaman pada
umumnya memilih tempat tinggal di tepian sungai-sungai. Selain dari
binatang buruan, mereka juga hidup dari ikan di sungai. Kelompok yang
bergerak lebih ke pedalaman lagi, sisa-sisa budayanya sering ditemukan di
dalam gua-gua yag mereka singgahi dan untuk tempat tinggal sementara
dalam pengembaraan mereka. Gua-gua ini letaknya pada lereng-lereng
bukit yang cukup tinggi, sehingga untuk memasuki gua-gua itu diperlukan
tangga-tangga yang dapat ditarik ke dalam gua, jika ada bahaya yang
mengancam.
Untuk menghadapi berbagai ancaman, manusia itu hidup berkelompok dan
jumlahnya tidak terlalu banyak. Biasanya mereka berada agak lama di
daerah yang mengandung cukup banyak bahan makanan, terutama umbiumbian
dan dedaunan, dekat sumber air, serta dekat dengan tempat-tempat
mangkal binatang buruan. Mereka kemudian akan melakukan
pengembaraan atau berpindah ke tempat lain. Di tempat sementara ini,
kelompok berburu biasanya tersusun dari keluarga kecil dengan jumlah
kurang lebih 20 sampai 50 orang. Tugas berburu binatang dilakukan oleh
orang laki-laki sedangkan orang perempuan bertugas mengumpulkan

makan, mengurus anak, dan mengajari anaknya dalam meramu makanan.
Ikatan kelompok pada masa ini sangat penting untuk mendukung
berlangsungnya kegiatan bersama.

1 comment:

Info Lainnya